Alarm Pukul 03.05 Pagi

Kriring…kririiiiinggg…

Suara nyaring dari Blackberry berulang-ulang berdering memecah tidur lelapku. Sambil bersusah payah bangun dari tempat tidur saya mencari-cari sumber suara tersebut. Handphone suamiku. Klik. Langsung saya matikan alarmnya. Mata yang merekat di kelopak terpaksa melek menuju jam dinding di kamar kami, pukul 03.05 WIB.
Hhh..alarm apa sih jam segini.

Kembali ke kasur, saya tidak mau ketinggalan momen tidur nyenyak. Justru suami saya terusik. Dia beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Sudah lumrah ketika tertidur pulas tiba-tiba ingin buang air kecil. Tak kuat menahan ngantuk saya pun kembali telelap dalam hitungan menit.

***
Kriring…kririiiiinggg…
Kriring…kririiiiinggg…kriririinggggg…

Bunyi yang sama memekakkan telinga ditengah lelap di keesokan malamnya. Pukul 03.05 WIB.
Ya ampuun ini alarm apalagi sihh, ganggu aja.
Buru-buru saya matikan dan langsung tidur lagi. Suamiku terbangun dan menuju kamar mandi. Dipikir-pikir aneh, masa untuk pipis aja musti pasang alarm dan selalu di jam yang sama. Ada apa ini?
Tapi lagi-lagi kantuk yang berat mengalahkan rasa penasaran saya.

Ditengah tidur, sebentar-sebentar saya terbangun. Karena untuk kembali lelap setelah tidurnya terganggu, bukan hal yang mudah. Tidur saya jadi tidak nyenyak. Masih berbaring dikasur, saya melirik ke sebelah dan terenyuh melihat suami saya sedang menengadahkan tangan sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

Subhanallah… Ternyata alarm tiap malam itu untuk ini…

Rasa malu saya menyeruak. Bagi saya, berusaha bangun di tengah lelapnya tidur adalah perjuangan luar biasa. Jujur saja, itu adalah hal yang sangat sulit untuk saya karena kebiasaan tidur saya yang melampaui batas. Padahal kegiatan saya sehari-hari tidak banyak, hanya melakukan kegiatan IRT pada umumnya. Sedangkan suami saya? Setelah lelah bekerja seharian dan pulang malam, dia masih berusaha menyempatkan diri untuk Shalat malam dan bercurah kepada-Nya. Dan ternyata kegiatan malamnya ini sudah ia lakukan lebih dari sebulan ini.

Saya merasa menjadi amat kecil ketika dia Shalat malam, saya malah asik terlelap. Ketika bangun melihatnya Tahajud, saya kembali tertidur lagi. Begitu berulang-ulang. Malu pun hanya dibenak saja, tidak sampai ke hati.

***

Sampai tadi malam, saya terbangun dan kembali melihatnya berdoa khusu’ sambil menundukan kepala dalam-dalam. Mencoba untuk tidur kembali tapi rasanya kok gelisah ya.
Ya Allah… Apa yang sebenarnya suamiku doakan dengan khusu’nya tiap malam, apa yang menjadi kegelisahannya saat ini… Apa yang menjadikaanya begitu tertunduk dalam… Seperti banyak luka yang sedang ia renungkan. Melihatnya pun aku terenyuh…

Saat ia istirahat sejenak dari Shalatnya, saya bangun dan mendekatinya lalu mencium pipinya. Rasanya ingin mentransfer kegelisahan yang ia rasakan. Belakangan ini kami memang sedang mengalami banyak ujian, tapi saya tidak ingin menambah bebannya dengan mengeluh akan keadaan kami sekarang.

Tanpa pikir lagi saya beranjak dan berwudhu. Langsung menggelar sajadah, memakai mukena, dan Takbiratul Ikhram di belakang suami saya. Lama juga saya tidak melaksanakan Shalat malam, beberapa malam terakhir mungkin pernah beberapa kali. Tapi tahajud yang berkelanjutan sudah lama tidak dilakukan. Terakhir kalinya ketika saya akan menikah, hampir tiap malam saya bangun untuk Shalat Tahajud dan Istikharah. Ya Allah… Maafkan hamba yang melakukannya karena hanya menginginkan sesuatu. Setelah pernikahan berlangsung, Shalat malampun mulai malas saya lakukan. Astagfirullah…

Setelah shalat 8 rakaat tahajud dan 1 witir, saya lanjut berdoa. Entah ini terlalu berlebihan atau tidak, tapi saya memang meminta banyak kepada-Nya. Kebahagiaan rumah tangga, rejeki untuk suami dan keluarga saya, segera diberikan keturunan (pake nawar pula kalau bisa kembar hehe), mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik, memohon kesehatan untuk saya juga semua keluarga saya, dan…
Ya Allah tanpa hamba ucapkan pun, sesungguhnya Engkau lebih mengetahui dan mengerti apa yang hamba inginkan dan butuhkan…”

Rasanya sekarang saya tau apa yang menjadi renungan suami saya. Doaku pasti menjadi doanya juga.
Pernah suatu malam dia berkata, “Kalau tahajud Aa gak berenti2, insya Allah Aa bakalan muncul disini nih,”
Kabulkan keinginan hebatnya ini Ya Allah…
Kini alarm pukul 03.05 pagi pun tidak akan terdengar mengganggu lagi 🙂
Iklan

One Comment Add yours

  1. Anak kembar itu bakat, Fen.
    Keluargamu ada keturunannya yg kembar ngga? kalo ngga ada, susah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s